Wednesday, March 13, 2013

Seri Wajah Wajah 2


Anakin
Cat air + Kertas

Akhir-akhir ini terinspirasi Star Wars, jadi ya iseng aja. Pilih-pilih mau gambar clone trooper atau maul, malah tersasar ke mister vader. Seharusnya bawa lightsaber, tapi takut pakai warna merah.. Biarlah.

Seri Wajah Wajah 1


Coba tebak #1?
 Pensil + Kertas

Belajar menggambar potret wajah.
Susah sekali, jauh kalau dibandingkan dengan gambar perspektif.
Ada ekspresi sama gurat gurat wajah khusus yang susah.. Gimana jelasinnya ya..
Ini bakal dilanjut pakai cat air, tapi masih eman-eman.

Setidaknya kalau ada yang mengenali ini wajah siapa, tujuan gambar ini bisa dibilang tercapai.

Adakah?

Sunday, December 16, 2012

Wajah Indonesia - Sayembara Ruang Luar Plaza Indonesia - IAI Jakarta


Peringkat 2.
Tim: Hanief Wicaksana, Sandhika Adlisia, Fitriana Uli, Eka Kristalina

Saya ucapkan terimakasih, untuk anggota tim, untuk teman-teman 2009 lainnya, kakak-kakak dan adik angkatan untuk inspirasi dan dukungannya, pak Agus Hariyadi atas bimbingannya, dewan juri: pak Budi Pradono, pak Nirwono Yoga, pak Sonny Sutanto, pak Herman Benjamin, dan teman-teman universitas lain yang saya temui saat presentasi. 

Saya bangga, berkorsa merah saat presentasi.



Wajah Indonesia, setelah kami diskusikan, ada tiga yang layak diperlihatkan:
Wajah keberagaman, wajah perjuangan, dan wajah kejayaan.



Apa simbol kehebatan, kejayaan, dan kebesaran negara kita?

Sculpture, dari bentukan sayap Garuda, berada di area utama, yang menghadap Bundaran HI. 
Garuda kita ambil sebagai sumber inspirasi karena kesaktiannya, kegagahannya.



Bagaimana membuat sesuatu yang ikonik tanpa terkesan menyaingi Bundaran HI?
Kami membuat sebuah bentukan yang membingkai, menambah nilai ruang Plaza Indonesia yang 'dipunggungi', dan mampu menaungi aktivitas temporer.


Bagaimana menampilkan wajah pejuang dalam satu dinding?
Kami mengajukan dinding sejarah, dengan beragam relief, yang diukirkan wajah pahlawan dan kronologi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Inspirasi kami adalah Borobudur, candi terbesar kita dengan dinding yang bisa bercerita.



Bagaimana memasukkan keberagaman dalam satu jalan?
Kami mengusulkan adanya beberapa detail ukiran dan pola kedaerahan dimasukkan dalam furnitur jalanan yang kami desain.


Zamrud khatulistiwa, dan obor para pejuang.

Kami membuat sebuah kanopi uap, sebagai penyejuk saat panas, dan bisa diartikan bermacam-macam saat malam hari. Saat uap berwarna hijau, akan seperti rimbunan pohon di hutan, di saat merah, bergelora bagai nyala api.


Untuk taman, dan area hijauannya, kami mengusulkan warna bebungaan merah dan putih. Serta penggunaan pavement yang berpori, serta penanaman beberapa sumur peresapan untuk antisipasi becek air hujan.

Saya rasa eksekusi desain kami masih kurang di beberapa aspek, terutama tentang lingkungan.
Tapi saya tetap merasa puas.

Semoga besok lebih baik.

Saya masih lapar.

Akhir kata: apa anda cukup jeli, melihat Dian Sastro dalam beberapa gambar diatas?
Hahaha.

Monday, November 26, 2012

Water Kinetic Park - Ikatan Dengan Sungai - UNS Archevent 2012


Peringkat 3.
Tim: Ardho Ghufron U, Gata G Mahardika, Hanief P Wicaksana


Sangat bersyukur, bisa masuk 5 besar, karena ini sebenarnya dibuat dengan waktu yang sangat mepet. Kita mulai bekerja jam 12 siang, setelah display studio, dan dikumpul 23.45, dimana kita masih juga kalang kabut karena lupa menaruh dimensi ukuran modulnya.

Kami kurang tidur, saat itu.

Desain berupa modul-modul mengambang, mengikuti ketinggian air. 
Kombinasi deck kayu, drum bekas, dan rangka bambu.
Dimana warga bisa menyusun modul ini sesuai kebutuhan mereka.

Mendefinisikan diri mereka sendiri.



Kita ingin desain yang lebih bisa 'dipermainkan'. Karena itu, kita memproposalkan sebuah taman apung yang bisa bergerak kanan-kiri maju-mundur putar-putar oleh air. Semakin keras aliran airnya, makin seru juga modul bergoyang. Dimana dengan begitu, modul ini akan 'terikat' dengan aliran air sungai.


Meski belum juara, peringkat tiga tentu menggembirakan. 

Banyak hal yang bisa dipelajari dari sini, waktu pengerjaan, perjalanan ke Solo, terutama presentasi yang sangat berkesan. Terimakasih buat dewan juri atas kritik dan masukannya, bapak Budi Pradono, bapak Yu Sing, dan bapak Paulus Mintarga.

Semoga ada kesempatan presentasi lain.
Saya akan kembali: lebih pintar, lebih kuat.

Saturday, November 10, 2012

Topi Onthel Jogja - Kritik Arsitektur


Entah bagaimana, kuliah teori arsitektur terbawa ke arah yang tidak terduga.
Minggu lalu, kita mengkritik bangunan dengan bebas, interpretatif.

Minggu ini? Festival Topi.

Kita diminta membuat topi yang mempromosikan Jogja 
(Sedengar anggota kelompok kami. Ada yang orang lain yang bilang harus 'Arsitektur Jogja', tapi ya toh sudah lewat..). Ide pertama: Onthel, ya sudah, langsung dibuat. Ada juga ide lain, berupa sketsa-sketsa, tapi belum difoto sudah dikumpul.

Ini agak membanggakan ya, semua kita buat dari hasil memulung.
Itu tutup kepala yang dari bambu, bekas dari suvenir bentuk laba-laba.
Sungutnya kita jadikan stang sepeda, dan pegangannya kita buat dari sedotan bekas.

Terus lampu sepedanya kita buat dari senter bekas, kita ikat di tutup kepala yang tadi dengan kabel audio video bekas, nemu di belakang tv.

Sepeda harus punya sadel dong?
Kita buat dari busa bekas, bahan sisa-sisa saat membuat maket, kita bentuk persis sadel.
sisanya, kardus-kardus bekas kita potong-potong untuk detail khususnya.

Lalu untuk meninggikan sadel busanya kita pakai tutup botol bekas teh kotak.
Dan jadilah Topi Onthel. Dengan biaya Rp 0-.

Masih banyak lagi topi yang lain, yang bagus dari kelompok lain. 
Semuanya mempromosikan Jogja. Ada topi gunungan, becak, keraton, dan lain-lain. 
Kadang kuliah kita memang tidak terduga, tapi nikmatilah.

Ini bisa dibuat di rumah kok, hehe.

Cobalah.

Share