Thursday, November 26, 2015

The Learnscape - Sayembara Situs Museum Song Terus, Pacitan, 2015, IAI.

November Kalah 2.0












Tim:
Baskoro Haryo Pamungkas
Gata Guruh Mahardika
Hanief Pitoyo Wicaksana
Reza Arlianda
Rizki Bhaskara

The Anyamantra - Sayembara Residential Sinarmas Land Young Architect, 2015. Sinar Mas Land.

November Kalah 1.0































Tim:
Fattah Akbar
Gery Dwi Samudra
Hanief Pitoyo Wicaksana
Herdyanto Tirtoputro
Muhammad Fadlil Anugrah
Shandy Cahyo Nugroho

Monday, October 5, 2015

Breath of Borneo - Sayembara Perancangan Gedung Cyber Borneo, 2015, IAI.


Tidak menyangka, ternyata perlu waktu 8 bulan untuk mencapai post ke-delapan di tahun 2015 ini. 

Setelah rajin menulis di bulan Januari-Februari (saya menulis tujuh jurnal pada rentang waktu tersebut), ternyata saya vakum menulis di laman ini selama kurang lebih delapan bulan. Ternyata jaraknya cukup lama, mungkin karena saya masih sukar membagi waktu. Sebenarnya ada dua sayembara lagi yang bisa saya masukkan ke dalam blog ini, namun, karena suatu hal, saya memutuskan untuk menyimpannya saja terlebih dahulu.

Saya dan Ribas memutuskan ikut sayembara ini karena 1). sedang senggang, 2). salah satu jurinya adalah Andra Matin yang kami idolai, dan 3). kami ingin buang sial. Buang sial karena sebelum ini, ada dua sayembara dimana kami gagal mengumpulkan karya (padahal kami sudah mendaftar dan mengerjakan). Mengingat skalanya yang tidak terlalu besar dan berupa desain sebuah bangunan (bukan kawasan), kami putuskan untuk ikut. Hitung-hitung mengembalikan ritme yang rusak karena dua kegagalan sebelumnya.

Namun pada akhirnya sama saja. Panel ini baru mulai kami kerjakan semalam sebelum pengumpulan. Beruntung kami bertemu Reza Arlianda, yang bisa kami paksa untuk ikut ambil bagian pada saat-saat terakhir. Tanpa dia rasanya panel ini tidak akan beres. 

Meski gagal juara, namun tentu saya cukup girang, mengingat panel ini masuk nominasi 9 besar. Beberapa karya yang saya lihat di laman media sosial ternyata bagus-bagus. Dan ada satu karya yang menurut saya panelnya sangat lengkap dan mendetail malah tidak masuk nominasi sama sekali. Agak kaget juga, karena kalau dilihat-lihat lagi, panel bisa dibilang isinya kalah komplit.

Tapi begitulah sayembara.

Akhir kata, menjelang pengumuman sayembara, Ribas kecelakaan, dan harus mendekam di rumah sakit selama beberapa waktu. Dia menabrak pembatas jalan jam 3 pagi, selepas begadang. Jadi siapapun yang membaca ini, mohon didoakan untuk kesembuhannya, dan hati-hati dijalan. Karena betapapun pentingnya, lembur tidak baik untuk dipaksakan.

Tim Desain:
Rizki Bhaskara
Hanief Wicaksana
Reza Arlianda

Dewan Juri:
Asdar Assalam (Direktur Borneo Grup) 
Benny Dhanio, IAI (Ketua IAI Kaltim) 
Ir. I Ketut Astana (Kepala DTKP Balikpapan) 
Isandra Matin Ahmad, IAI (Arsitek)









Wednesday, February 18, 2015

Pulau Rinca dan Kanawa



Siang hari bulan Agustus. Cuaca sangat terik saat kami mulai masuk ke sebuah teluk yang dirimbuni bakau. Pulau Rintja, atau Rinca, adalah destinasi kedua kami di gugusan kepulauan Komodo.

Kami agak bingung saat memutuskan akan melihat komodo dimana kemarin. Pulau Komodo atau Rinca? Namun setelah berpikir masak-masak, kami memutuskan pergi ke Rinca saja. Kabarnya hewan endemik ini lebih banyak ada di pulau ini. Namun kabarnya, di Pulau Komodo, kita bisa bertemu komodo yang berukuran lebih besar. Tapi toh kami belum pernah kemana-mana, Komodo maupun Rinca, jadi ya sudah, kami ambil Pulau Rinca saja, lagipula, jaraknya lebih dekat dengan Labuan Bajo, dan kami harus menghemat waktu.




Kami merapat untuk kedua kalinya tidak lama berselang, kali ini kami menginjak dek kayu yang terlihat kuat ditempa cuaca saat turun dari kapal. Beberapa meter di depan kami ada gerbang, dan tidak lama, kami langsung berjalan masuk.

Pulau ini kering sekali, pikirku. Selepas hutan bakau, kami menemui tanah-tanah yang retak oleh panas matahari. Rasanya kalau hujan area ini akan menjadi kubangan lumpur, tapi saat itu tidak ada jejak air sama sekali. Pandangan kami langsung terpaku pada rumah-rumah panggung yang berdiri di ujuang jalan setapak. Rasa-rasanya itu pos pertama, dimana kami harus mendaftar sebelum berkeliling.


Untuk berkeliling pulau, kami dengar kami harus menyewa ranger. Saat itu kukira maksudnya adalah mobil khusus, namun ternyata maksud dari ranger adalah seorang ahli. Mungkin pawang komodo, atau semacamnya. Setelah mendaftar, seorang ranger datang dan menjelaskan banyak hal kepada kami. Dia membawa tongkat yang ujungnya bercabang, sebagai senjata.

Trek yang bisa dipilih beragam, tapi pada umumnya ada 3 jenis: trek panjang, ringan, dan sedang. Berhubung waktu kami tidak banyak, kami memilih trek yang ringan dan singkat saja, yang nantinya berakhir di bukit. Untuk yang terjauh, bisa memakan waktu sampai 6 jam.

Omong-omong soal komodo, aku lupa bahwa mereka adalah aktor utama di sini. Aku membayangkan akan berada di tengah habitat binatang buas, sehingga awal-awal perjalanan aku memastikan alang-alang dan rerumputan di pinggir jalan setapak tidak menyembunyikan kadal besar itu. Tapi ternyata, komodo-komodo ini tidak seganas yang kubayangkan. Mungkin saat itu hari sedang terik dan semua reptil sedang berteduh, aku tidak tahu. Namun saat melintasi deretan rumah panggung, kami melihat banyak reptil besar ini ada di bawahnya. Oh, mereka bahkan dilempari sekeranjang kulit kepiting oleh salah seorang ranger. Mungkin ini yang membuat mereka manja.

" Sebenarnya itu tidak boleh."

Ranger kami memberi tahu.

" Itu bisa bikin mereka keenakan. Baru-baru ini ada satu ekor masuk ke dapur kami."

Dia menambahkan lagi.

"Meski terlihat jinak, kita mesti tetap hati-hati. Liurnya penuh kuman, yang bisa bikin kita mati dalam seminggu kalau tergigit. Lihat saja buktinya di sana." Dia menunjuk kumpulan tengkorak hewan yang terpancang di batang kayu untuk mengingatkan kami. 

  

Kami melanjutkan jalan dan sampai di sarang komodo. Kami lihat banyak cerukan dan lubang di tanah. Belum lama kami memperhatikan, pak Ranger sudah menambahkan penjelasannya. Ini adalah tempat bersarang dan bertelurnya komodo. Sekali lagi kami diingatkan untuk mengecek sekitar. Benarkah yang mau kami duduki itu batang pohon? Ataukah ia seekor reptil yang sedang bersantai? Tentu akan merepotkan kalau salah satu dari kami teledor dan diserang.


"Saya pernah menolong turis asing yang pingsan saat trekking." ujarnya. "Bayangkan, saya harus repot-repot menggotong dia dari tengah hutan untuk dapat pertolongan pertama!"

Baik, pak, kami akan berhati-hati. Saya tidak akan meremehkan komodo, meski mereka terlihat lebih malas daripada mahasiswa pulang kampung. Apalagi kalau harus menggotong seorang kawan sampai kapal.

***

Perjalanan kami lanjutkan lagi, jalan terasa mulai menanjak. Kami menenggak air mineral dan duduk sejenak sebelum sampai puncak.

"Kalian bakal suka ini." 

Pak ranger berkata demikian menjelang puncak bukit, dan benar saja, kami dapat pemandangan yang kami dambakan. Ini yang aku lihat dalam 360 derajat.





Waktu kami disini banyak habis di acara berfoto dan duduk-duduk. Panas matahari sedang mencapai puncaknya, tapi rasanya aku tidak peduli. Beruntunglah aku berangkat kemari.

***
Hari sudah agak sore saat kami kembali ke kapal untuk menuju Pulau Kanawa, destinasi terakhir kami. Pulau ini, atau mungkin sebagian besarnya, tampaknya sudah menjadi milik seseorang. Ada banyak cottage yang disewakan di tepian pantai, dimana kebanyakan penyewanya adalah turis asing. Kano-kano terserak terkena buih ombak di pinggir pantai, dan ada satu bangunan yang rasanya adalah tempat makan. Tidak banyak yang kami lihat, karena waktunya terbatas. 


Air di bawah dermaga sangat jernih, dan lagi-lagi aku melihat penyu melintas. Aku tidak mencoba berenang di dalamnya, hanya berkeliling pulau sebentar, lalu kembali ke kapal. Kami harus kembali pulang sebelum malam, karena angin akan turun dan lautan akan segera menjadi gelap. Namun rasanya cukuplah perjalanan kali ini ditutup dengan sunset.

Seandainya saja kami bisa lebih lama diam disini.

Tuesday, February 17, 2015

Siang Hari di Pantai Pink, Pulau Komodo





"Nih. Asik banget gak sih?"

Ya, rasanya tempat yang diperlihatkannya itu memang asik banget. Di layar handphonenya, dia menunjukkan sebuah foto. Foto yang asik banget itu diambil di puncak sebuah bukit. Foto itu menangkap panorama pantai yang luar biasa. Lekukan bukit-bukit kuning yang melengkung membingkai pantai, dengan langit dan laut yang sama-sama biru. Di kejauhan, pulau-pulau yang lekuknya tidak kalah seksi seolah mengapung di atas laut. Perpaduan warnanya luar biasa. Aku tidak memperhatikan siapa orang yang mengambil gambar tersebut, sampai Tiki berseru girang.

"Itu Nicholas nif!"

Pantas saja tempat ini dilabeli asik banget olehnya. Pesona Rangga pada gadis-gadis sama dengan kadar feromon Cinta pada kaum adam. Kalau aku punya rasa terhadap Dian Sastro, perempuan tentu memuja Nicholas Saputra sedalam-dalamnya. Ini adalah fakta.

Tapi lebih jauh dari itu, tempat foto-foto itu diambil luar biasa. Foto itu kugeser-geser terus ke bawah, dan diam-diam tumbuh keinginan untuk datang kesana. Kepulauan Komodo.

***



Tidak sampai sebulan setelahnya, aku melompati tepi dermaga, masuk ke dalam sebuah kapal nelayan, untuk memulai perjalanan ke tempat yang sebulan lalu kami intip lewat Instagram. Saat itu, kami ditemani berlima ditemani oleh seorang kapten dan dua orang awak kapal. Bapak kapten tentunya yang paling tua dan berkumis. Mereka ramah sekali, sayangnya saya lupa nama mereka. Bapak Kapten tampak bersiap membuka pembicaraan begitu kami selesai mengambil posisi.

"Kira-kira empat jam perjalanan. Pokoknya dinikmati saja. Ini ada teh dan kopi, silahkan ambil sendiri saja."

Udara masih agak dingin, matahari masih bersiap memanjat bukit. Bukit-bukit yang kemarin kami lihat penuh lampu rasanya masih belum terbangun. Kami ambil cangkir dan menyeduh teh masing-masing, sambil menggerogoti biskuit sari gandum yang kami bawa dari Labuan Bajo. Angin laut menerpa, sambil kami mengobrol kecil dengan si kapten. Tak berapa lama, matahari muncul juga membawa rasa hangat.

Melihat matahari terbit tidak pernah senikmat ini.

***

Sinar matahari yang meninggi mulai menyilaukan mata. Aku terbangun dan memandang sekeliling. Rasa-rasanya, tidak lama lagi kami akan sampai Pantai Pink di Pulau Komodo. Waktu menunjukkan pukul sembilan saat kami mulai melihat gugusan pulau mengepung kapal kami. Pulau-pulau ini berlekuk-lekuk, dan warnanya kuning kehijauan, kontras dengan laut dan langitnya. 



Benar saja, Pak Kapten menunjuk sebuah garis putih tipis di kejauhan, menandakan kami akan menepi di sana sebentar lagi. Semakin dekat kami ke pantai, air yang kami apungi makin jernih. Ada penyu berwarna putih melintas di bawah kami! Ini luar biasa. Aku belum pernah melihat penyu di luar penangkaran sebelumnya. Dan ternyata satwa langka yang bebas berkeliaran itu ada.

"Sekarang sudah sampai."

Kami masih berjarak sekitar beberapa belas meter dari tepi pantai.

"Kapal tidak bisa sampai pinggir, banyak terumbu karang di sekitar pantai. Akan rusak kalau kita menepi. Hati-hati kalau berenang, jangan menginjak karang, dan jangan berenang terlalu tengah."

Sesungguhnya aku tidak menyimak. Aku ternganga menatap lautan kaca di bawah kapal kami. Seolah kami sedang berlayar di atas kaca patri, dengan ikan-ikan dan terumbu karang yang mewarnai kaca itu. Ikan ikan bergerak-gerak dalam tempo yang hampir sama. Mereka bergerombol dan bergoyang kanan kiri, seakan sedang menunggangi arus.

"Waktu kita lumayan lama, jam 11 silahkan kembali kesini. "

Aku orang pertama yang melepas baju dan melompat. Byur! Aku tidak pernah merasa begitu bersyukur bisa berenang. Baru aku sadar, 2/3 Bumi adalah air. Pikirku secara dangkal, bisa berenang berarti membuka kemungkinan kita untuk menjelajah sebagian besar planet ini. Ini adalah alasan yang baik untuk mulai belajar berenang dan menabung untuk mendapat diving license.












Dari balik kacamata renang, aku melihat warna-warninya dunia bawah laut. Terumbu karang bergoyang-goyang diterpa arus laut yang santai. Bentuknya beragam. Ada yang terlihat lembut bergoyang-goyang seperti beludru, ada yang runcing, dan ada yang kokoh berongga, tempat bersembunyi ikan-ikan kecil dan sejenis kepiting. 

Ikannya sendiri sangat banyak. Berenang disini seperti tercebur dalam es campur. Bedanya kolang-kaling, nangka, dan cincaunya adalah ikan hidup. Seakan seseorang baru saja menumpahkan sejuta ikan ke perairan tempat kami berenang. Ikan-ikan warna-warni ini jinak-jinak, dan kita bisa berenang santai diantara mereka. Sinto, yang fobia ikan, tampaknya tidak panik saat berada diantara mereka. Itu hal bagus, karena rasanya kami tidak akan sempat mengurusi kawan yang pingsan di tempat seindah ini.




Kami berenang berkeliling di sekitar kapal, dan akhirnya menepi di pantai. Dengan warna pasir merah muda, jelaslah bahwa pantai ini pantai impian. Pantai milik Leonardo DiCaprio dalam film "The Beach" pun menurutku kalah cantik. Terlebih disini tidak ada hiu pemakan manusia, sepanjang pengetahuanku. Meski tentu aku awas bahwa komodo bisa berenang antar pulau - hal lain yang perlu diwaspadai.

Sayangnya, saat aku berjalan mendekati batas pasir dan tanah dimana pohon mulai tumbuh, aku menemukan beberapa sampah plastik berserak. Sampah-sampah itu terkumpul di sebuah cerukan. Aku mengambil salah satu botol, dan memasukkan sebagian pasir pink ke dalamnya untuk kubawa pulang. Rasanya agak bersalah tidak membantu membersihkan sampah disana saat itu.

Matahari sudah mulai tinggi. Lelah berenang dan terbakar terik, kami kembali ke kapal. Alangkah senangnya perut ini melihat sudah ada panci dan piring tertata rapi di meja kecil kapal.

"Nasinya sudah tanak, mari makan bersama"

Aku agak terkejut, mengingat rasanya Pak Kapten dan awaknya tidak membawa alat masak. Tiba-tiba aku ingat, ada pisang goreng hangat yang kami makan saat sedang berada di tengah perairan selepas subuh tadi.Oke, air panas bisa muncul dari termos. Tapi pisang goreng renyah? Muncul darimana semua itu? Agak heran, aku lempar satu pertanyaan padanya sambil memeras celana pantaiku.

"Ini kapan masaknya pak?"

"Hahahaha. Itu rahasia pelaut!"

Sambil mengunyah pisang goreng yang entah darimana, dia melanjutkan.
"Biar ombak setinggi tebing, nasi hangat harus tersedia di piring!"

Tiba-tiba aku ingat kapal bernama Baratie.


Jurnal perjalanan Komodo, Agustus 2013.

Share