Monday, December 1, 2014

Sepanjang Masohi

Di Maluku, ke taksi manapun anda masuk, aku jamin musik-kusik lama mengalun merdu. 

Sepanjang perjalanan menyusuri Ambon dan Seram, aku selalu menikmati musik yang dimainkan pak sopir di mobil. Musik lawas seperti Queen, ABBA, Bee Gees sampai artis legendaris lokal seperti Broery bernyanyi menggantikan radio atau musik pop standar, yang biasa dimainkan di taksi kota-kota besar.

Jangan membayangkan taksi disini seperti taksi pada umumnya. Taksi disini bukanlah Limo, atau Vios, atau sedan apapun yang biasa anda naiki. Taksi disini umumnya adalah Avanza, pak sopirnya tidak menggunakan seragam atau tanda pengenal, pun tidak memiliki sistem argo. Tapi kujamin, orang disini baik hati meski bersuara keras dan tegas.

Ini adalah cerita saat aku dan teman-teman mengikuti acara presentasi sebuah sayembara di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Kami berempat dijemput di dekat bandara setelah menginap sehari di Hotel Transit Maluku, 2 km dari Bandara Pattimura. Kami langsung masuk ke taksi, untuk langsung ke pelabuhan Tulehu, mengejar kapal cepat langsung ke Pulau Seram.

Di pelabuhan Tulehu, semua peserta sayembara dan dewan juri berkumpul untuk sarapan sambil menunggu kapal cepat. Kapal cepat yang datang adalah kapal putih bersih yang memiliki atap yang menyatu dengan badan kapal, sehingga penumpang terlindung sepenuhnya dari hujan, berbeda dengan kapal cepat biasa yang beratap terpal. Kabinnya muat untuk sekitar 12-15 orang, dengan posisi duduk berhadap-hadapan seperti di angkot. Di ujung depan, ada kursi khusus untuk kapten kapal, persis seperti kursi pilot pesawat. Dua mesin Yamaha terpaku di belakangnya, dan disamping pintu masuk belakang terdapat wastafel sederhana. Aku pikir, kendaraan ini luar biasa. Belakangan aku tahu, bahwa kapal itu adalah pesanan mantan bupati Masohi dan pemda setempat, yang khusus datang menjemput kami.

Aku tidak tahu perasaan yang lain, tapi aku sendiri kaget, karena aku jarang dianggap penting.

Kapal ini mampu membawa penumpang sampai dari Pulau Ambon sampai Pulau Seram dengan cepat, dengan resiko terhuyung ombak sepanjang perjalanan, sehingga rasanya tidak disarankan untuk mereka yang sering mabuk, terlebih jika cuaca sedang buruk. Disamping itu harganya jelas lebih mahal. Kami melewati dua pulau dengan cepat, untuk langsung mendarat di Seram dengan selamat, meski cuaca sedang gerimis.

Perjalanan dilanjutkan dengan mobil travel yang cukup besar, sebuah minibus yang muat sekitar 12 orang, lagi lagi terimakasih kepada pemda setempat. Aku duduk di bangku paling belakang, bersama Gery, Rejak, dan Gata. Perjalanan ke Masohi cukup panjang, mungkin sekitar 3 jam jalan berliku dan mengular menyisir sisi selatan Seram. Aku sempat mengecek lewat HERE Maps, namun ternyata bentuk jalannya tidak muncul di peta. 

Dengan bentuk jalan yang sama sepanjang perjalanan, dengan pelingkup pohon dan semak yang tinggi sepanjang perjalanan, tidak adanya sinya dan buku bacaan, 3 jam ini berpotensi membosankan. Untungnya di depan kami duduk seorang Yori Antar dan Prof. Watloly. Bagaimanapun, pembicaraan dan cerita-cerita mereka terlalu menarik untuk diabaikan dan ditinggal tidur. Tiga jam ini terasa seperti kuliah umum dengan dosen tamu yang hebat, sampai akhirnya nanti tiba di Masohi.

Kota ini tidak begitu mengejutkan, karena rasanya suasananya lumayan persis dengan beberapa bagian kota Gianyar di Bali, tempatku tinggal selama belasan tahun. Ada terminal persis di sebelah pasar, angkot-angkot, yang menyetel house music keras-keras, berseliweran bersama taksi-taksi Avanza dan motor-motor matic. Di malam hari, sepanjang trotoar ditutupi oleh penjaja buah kelengkeng dan durian, sambil sesekali alur itu terputus karena adanya warung lesehan. Kondisi trotoar disini tidak baik, ada lubang-lubang, dan lengkungan yang membuat air hujan tertampung menjadi becek. Persis sekali dengan daerah Batubulan, Gianyar.

Pembedanya adalah di Masohi tidak ada bau dupa dibakar yang sangat khas Bali. Dan tidak ada genteng tanah liat. Sepanjang perjalanan, sebagian besar rumah ditutup oleh atap seng, dan sesekali rumbia. Ada beberapa yang memasang genteng, namun itu hanya terbatas untuk beberapa bangunan saja, dan itupun bukan genteng tanah liat pada umumnya. Jika dibandingkan dengan Gianyar, kondisi kota ini juga lebih sepi. Satu ruas jalan yang menuju ke arah rumah dinas Bupati sangat lebar dan lengang, di kanan-kiri ada rumah-rumah dengan jarak yang renggang satu sama lain.

Aku sedang sibuk menyerap energi dan atmosfer kota Masohi, tanpa sadar kami sudah tiba di Rumah Dinas Bupati Masohi, selain untuk melihat site sayembara secara langsung, juga untuk menerima sambutan singkat. Tempatnya luas dan masih hijau. Di belakangnya ada bukit yang masih liar. Baileo dan guesthouse yang sudah ada berdiri di depan dan samping site, sementara ruang parkir dan rumah bupati terletak di belakang. Yang menarik, banyak sekali rusa dipelihara dan dibebaskan di sekitar halaman rumah dinas ini. 

Aku teringat satu rusa yang kusate saat KKN di Sumbawa Barat.

Pertemuan dan sambutan tidak berlangsung lama, dan kami langsung bertolak untuk makan. Menu yang kuharapkan sebenarnya adalah daging rusa, tapi ternyata kendaraan menuju ke warung sederhana yang dilewati tadi di pinggir jalan. Bambu Kuning adalah warung ikan bakar yang tampaknya terkenal di Masohi. Ada beberapa tamu selain rombongan kami yang berbicara dengan logat Jakarta, lengkap dengan mengalungi DSLR dan menggenggam iPhone. Warung ini sederhana saja, dinding kayu dan bambu, meja kayu, dan udara ruang yang sedikit berasap karena ikan dibakar persis di samping warung. 

Untuk soal rasa, luar biasa. Bumbu ikan bakarnya sedap kemerah-merahan, namun sama sekali beda dengan apa yang pernah kucoba di Bali. Nasinya tampaknya nasi gurih, tapi kita juga bisa coba makan ikan dengan papeda, setelah mengalasi piring dengan kuah dari sup ikan. Semua sepakat ini salah satu menu ikan bakar terenak yang pernah dimakan. Lebih beruntung lagi: semua gratis berkat sponsor Ikatan Arsitek Indonesia dan pemda setempat. 

Jika anda ingin ke Sawai atau Ora, anda pasti akan lewat dan transit di Masohi dan aku sarankan jangan lewatkan tempat yang satu ini. Perjalanan akan dilanjutkan untuk mengunjungi desa adat Rohua dan Bonara, milik suku Naulu, kalau saya tidak salah. 

Tapi akan kuceritakan di tulisan lainnya.
Kalau ada yang ingin tahu biaya perjalanan dan akomodasi Surabaya-Ambon-Masohi, aku beritahu di bawah.

Surabaya-Ambon
Pesawat Lion Air PP = Sekitar Rp 2.000.000/orang
Angkot Bandara Pattimura ke Hotel Transit Maluku =  Rp. 2.000/orang/malam
Hotel Transit Maluku (VIP Room: 2 bed, KM dalam-tanpa pintu, AC, TV) = Rp. 80.000/orang
Angkot Hotel Transit Maluku - Pelabuhan Tulehu = Rp 5.000/orang
Kapal Cepat Cantika Express, Tulehu-Amahai = Rp 100.000/orang
Taksi Avanza = biaya tergantung tujuan, karena tidak pakai Argo, sebaiknya tawar menawar saja.

Masohi
ATM terakhir sebelum ke Saleman cuma ada di kota ini, BNI dan BRI,
Hotel Lulu di Masohi (Standard Room for 2 ppl: 2 bed, KM dalam+air panas, AC, TV) = Rp 150.000-Rp 200.000/orang/malam
Charter Taksi Avanza ke Saleman = rata-rata Rp 500.000/mobil 1x jalan
Ikan Bakar Warung Bambu Kuning = ditraktir, jadi tidak tahu.

Wednesday, August 20, 2014

Baileo Kita Semua Punya - Sayembara Baileo Dan Guesthouse Kabupaten Maluku Tengah. 2014. IAI.

Aku sering berpikir, dengan cara tertentu, arsitektur adalah tiketku untuk menjelajah. 

Di bawah ini adalah panel sayembara perancangan bangunan balai pertemuan beserta penunjangnya di area rumah dinas Bupati Masohi sekarang. Masohi sendiri terletak di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Aku sendiri belum pernah mendengar nama Masohi sebelumnya, dan tidak banyak yang kutahu tentang tempat ini, kecuali ia berada di bagian selatan Pulau Seram, sebelah timur Ambon. Dan kali ini, sayembara inilah tiketku menuju ke Pulau Seram.

Baileo adalah nama rumah adat di daerah Maluku Tengah. Baileo dianggap sebagai bangunan yang cukup sakral, dengan fungsi sebagai balai pertemuan terbuka, yang dibuat tanpa dinding masif, dipercaya agar roh leluhur bisa tetap memasuki rumah dengan. Baileo ini ada di tiap-tiap desa. Ada hal menarik tentang konsep desa disini, dimana di Maluku, sebuah 'desa' dianggap sebagai satu 'negeri', dengan sebutan 'raja' sebagai pemimpinnya. Hal inilah yang membuat nama Moluccas, alias negeri banyak raja menjadi wajar.

Untuk sayembara ini, Baileo akan diletakkan di sebuah site yang unik, dengan sumbu jalan yang kuat, lurus langsung menuju pantai. Bangunan utama berupa Baileo berkapasitas 500 orang, yang digunakan untuk balai pertemuan 183 negeri. Jumlah ini didapat dari penghitungan jumlah desa-desa yang ada di wilayah administratif kabupaten Maluku Tengah. Bangunan pendukung, dan guesthouse baru akan dibangun menggantikan bangunan yang lama, dan sebisa mungkin dibuat menyesuaikan dengan rumah dinas Bupati Masohi sebagai eksisting.

Ada langgam dan filosofi lokal yang disebut Siwalima, yang diwujudkan secara fisik dalam 9 kolom memanjang dan 5 kolom membujur. Ada beberapa penjelasan tentang mengapa angka 9 dan 5 dipilih, namun rasanya ini akan terlalu panjang dan melebar untuk dibahas. Selain itu, ada orientasi matahari, materialitas, dan bentuk serta ornamen tertentu yang harus diperhatikan.

Sejarah Ambon yang pernah mengalami kerusuhan membuat tim berpikir, bagaimana bangunan ini bisa menjadi pemicu kesatuan? Konsep Baileo "Kita Semua Punya" diajukan untuk membangkitkan semangat kebersamaan dan kesatuan. Sesungguhnya, pembangunan rumah tradisional di Indonesia sangatlah lekat dengan semangat gotong-royong. Semangat ini diwujudkan dalam desain yang memberi ruang pada tukang-tukang lokal untuk bergerak bersama membangun baileo dengan material lokal: bambu, kayu, dan atap rumbia. Beberapa street furnitur berfungsi sebagai kanvas, dan monumen 183 negeri disediakan mengelilingi bangunan sebagai simbolisasi persatuan dan kesetaraan tiap negeri. 

Alangkah baiknya jika ada perjanjian dari ke 183 negeri untuk bersama menyumbang masing-masing tukang terbaiknya untuk bersama membangun Baileo ini. Penggunaan tukang lokal, material lokal yang rentan cuaca, serta sistem manajemen sosial yang diajukan memang merepotkan dan tidak mudah, namun rasanya dengan bekerja, menyumbang, dan berdiskusi bersama-sama, akan lebih memunculkan rasa memiliki dan persatuan, dibanding sekedar memajang simbol masing-masing desa.

Singkat cerita, eksekusi desain dan ide yang akhirnya diajukan sangatlah sederhana. Proporsi bangunan utama dipertahankan sesuai preseden Baileo tradisional, lalu dibuat panggung untuk memasukkan fungsi penyimpanan benda pusaka dan servis dibawahnya. Tanah di sekeliling bangunan dibuat menjadi ramp hijau dengan tangga, sebagai ruang publik dan penyaring debu. Rasio ruang hijau area lansekap dipertahankan, dan dibiarkan sebagai tempat memelihara rusa, sementara bangunan guesthouse dan area parkir diletakkan di bagian belakang site.

Pada akhirnya, karya ini tidak menjadi juara, hanya saja pengalaman yang didapatkan sangatlah menarik, dan dengan senang hati akan aku ceritakan dalam tulisan berikutnya. Oh, selain itu ada file presentasi dan video yang akan segera ditambahkan nanti.

Kredit untuk semua anggota tim yang hebat:
Reza Arlianda
Gata Guruh Mahardika
Rizki Bhaskara
Gery Dwi Samudra
Muhammad Fadlil Anugrah
Baskoro Haryo Pamungkas
Hanief Pitoyo Wicaksana







Tuesday, August 19, 2014

Saujana Dalam Palka - Sayembara Desain Paviliun Utama dan Stand Nasional Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015. 2014. IAI.

Kali ini aku bergabung dengan tukang baca buku sebagai tim dalam satu sayembara: merancang Paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015. Ada Andin, Gata, dan Ribas.

Frankfurt Book Fair (FBF) kabarnya adalah salah satu event terbesar di dunia, yang berkaitan dengan buku dan karya tulis. Setiap tahunnya, ribuan penulis dan penerbit berkumpul jadi satu di bawah satu atap. Singkat kata, Indonesia mendapat kesempatan menjadi Guest of Honor di tahun 2015, dan karena itulah sayembara ini dilakukan. Tema paviliun Indonesia punya judul "17.000 Islands of Imagination", dan akan memuat sekitar 2000 judul buku dalam luasan total sekitar 1000 m2, yang terbagi dalam sebuah paviliun utama dan bagian kecil lagi untuk stand penerbit nasional.

Pertama, tema yang sudah ada "17.000 Islands of Imagination" kami baca sebagai semangat untuk menunjukkan Indonesia sebagai negara yang majemuk, kaya akan budaya, dan penuh ide cemerlang. Tema ini juga seolah ingin menegaskan kembali bahwa Indonesia adalah negara maritim. Di sisi lain, dari pencarian kami tentang sosok penulis-penulis di Indonesia, kami melihat bahwa linimasa perkembangan sastra di Indonesia sangatlah menarik, sehingga kami putuskan untuk mengangkatnya sebagai konsep.

Melalui proses yang lumayan panjang, akhirnya muncul kata-kata saujana (sejauh mata memandang) dan palka (lubang dalam kapal tempat menaruh barang-barang), yang kami rangkai menjadi "Saujana dalam Palka". Kami mengibaratkan paviliun Indonesia sebagai kapal, yang membawa keindahan dan kehebatan Indonesia di dalam palka-nya, meski dengan luasan terbatas. Ruang-ruang dipecah menjadi pulau-pulau kecil, dengan koleksi buku dan suasana (bau, tekstur, serta suara) yang berbeda-beda, sementara sepertiga ruang paviliun utama kami buat menjadi panggung sederhana yang bisa digunakan sebagai tempat berkumpul saat tidak ada pentas. Keterbangunan desain disini menjadi hal penting, karena itu kami memutuskan untuk menggunakan banyak furnitur modular dan kain, untuk kemudahan mobilisasinya. Untuk ini, kami harus berterimakasih kepada Pak Apep, Achmad Tardiyana, atas sharing ceritanya kepada Andin di Urbane tentang bagaimana Paviliun Indonesia di Venice Biennale kemarin terbangun.

Proses desain sangat menyenangkan, meski dilakukan dari tempat yang terpisah-pisah: aku di Denpasar, Andin di Bandung, Gata mudik ke Surabaya, dan Ribas kebetulan sedang balik ke Magelang. 

Mungkin ini manifestasi nyata dari pemikiran "Bhinneka Tunggal Ika".
Berbeda-beda tapi tetap satu tim.
Tercerai-berai tapi tetap ngirim karya.

Sebagai penutup, aku tahu bahwa Andin sudah sering membaca novel, bahkan sekarang sedang memulai karirnya sebagai penulis merangkap arsitek, sementara Gata punya tumpukan buku-buku bagus di kamarnya, sesekali aku lihat dia asyik membaca buku tentang seni, sambil mendengarkan dan sesekali memainkan lagu-lagu indie. Tidak kurang, Ribas adalah orang yang kamarnya ingin kurampok, karena koleksi Tintin dan buku-buku karya Pram-nya yang terlihat sedap. Kami rasanya cukup suka membaca buku, dan tentu saat mengirim panel terselip doa kami untuk menang, dengan harapan akan diundang ke Jerman.

Tapi ternyata, sejauh-jauhnya Denpasar, Surabaya, Bandung, dan Magelang terpisah, 
Jerman masih lebih jauh.






Tuesday, June 24, 2014

Malioboro as Festival-Play-Scape - Sayembara Penataan Kawasan Malioboro, Yogyakarta, 2014. Dinas Pekerjaan Umum.

Diantara sekitar empat belas hari bekerja, 
sembilan kepala yang bertubrukan, 
serta seratus debat eksekusi desain,
karya ini muncul.

Ini satu sayembara yang saya kira aneh lagi. Aneh karena kali ini saya dan teman-teman turut menyumbang ide untuk sebuah jalan yang begitu wajar kita lewati sehari-hari. Mungkin tidak aneh buat yang lain. Mungkin anehnya cuma buat saya. Kenapa? Karena seminggu sekali saya lewat sini, menuju rumah kakek-nenek saya di daerah Ngasem.

Memulainya luar biasa bingung. Rumit.

Kami bersembilan susah sekali menemukan titik berangkatnya. Sekitar seminggu kami berbingung-bingung sampai akhirnya kami memutuskan untuk membuat survey - rasanya baik juga kalau kami menggunakan suara orang-orang sebagai titik tolak dalam berpikir. Kami akhirnya membuat beberapa pertanyaan seputar Malioboro untuk disebar di beberapa media sosial, dan hasilnya akan kami jadikan sebagai acuan untuk berpikir dan menentukan prioritas masalah yang mana yang paling mendesak. Mungkin hasil survey belum sepenuhnya benar, tapi kalau dibandingkan, rasanya suara 100-sekian orang lebih bisa dipercaya dibanding suara 9 orang-peserta lagi.

Dari hasil survey, kami menemukan bahwa sebagian besar ternyata cukup puas dengan Malioboro sekarang. Sebagian besar sepakat bahwa masalah pedestrian, dan baliho adalah hal yang paling mengganggu. Parkir kendaraan juga dianggap sangat mengganggu, meski ternyata sebagian besar masih menggunakan kendaraan pribadi. Kami mulai menemukan titik terang, bagian mana yang harus dihilangkan, bagian mana yang harus didesain, dimana untuk lebih detailnya bisa langsung dibaca di panel. Lalu, setelah membaca karakter masyarakat Jogja, kami memutuskan untuk menggunakan konsep 'Festival' sebagai generator aktivitas, dimana nantinya konsep ini akan diaplikasikan dalam bentuk street furniture modular yang fleksibel. Kami cuma menawarkan kesempatan apa yang bisa dilakukan dengan modul-modul sederhana yang kami rancang - dan sebenarnya tanpa membuat desain aktual.

Ternyata, diantara 5 finalis, hanya kami yang tidak mengajukan underground pass sebagai bagian dari rancangan utama. Desain ini menurut saya pribadi bersifat konklusif. Kami punya hasil survey. Kami punya beberapa data tentang karakter orang Jogja. Dan kami tahu bagian mana saja yang perlu dihilangkan dan ditambah. Apa yang kami ajukan tidak kurang, dan tidak lebih. Karena sebenarnya kami yakin, Malioboro itu nggak jelek, cuma ketutupan benda-benda jelek. 

















Pada akhirnya, kami belum berhasil juara. Saya merasa agak wajar, karena rasanya sebagai orang yang tinggal di Jogja, rasanya saya pribadi kurang berusaha lebih. Saya tidak mencoba meriset, membaca, atau berpikir lebih dalam.  Ya, kami sendiri kaget kok, masuk lima besar. 

Rasanya benar kata Tante Siska, guru bahasa Inggris saya, saat memulai sesuatu, lebih baik kita memposisikan diri sebagai orang awam, bukan sebagai ahli, sehingga kita terbuka terhadap segala hal. Kami belajar banyak dari karya-karya yang lain, dan dari 'ceramah' tentang filosofi Jogja yang diberikan setelah presentasi. Tercerahkan. Mungkin kami lupa diri karena merasa mengenal medan. Mungkin kami luput melihat sesuatu karena sudah menganggapnya hal biasa. Apa jangan-jangan saya sudah turut serta menyumbang masalah di Jogja? Saya takut, kutipan yang saya lihat di internet ternyata benar adanya.

"Otak yang sama, yang sudah menimbulkan berbagai masalah, tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu." 
Albert Einstein.

Tapi ya, sudahlah.
Tidak ada kecewa, karena kami belajar banyak..
Buat saya pribadi, cukuplah kalau hari ini lebih baik dari kemarin.

Tim Malioboro:
Gata Guruh Mahardika
Herdyanto Tirtoputro
Reza Arlianda
Rizki Bhaskara
Muhammad Fadlil
Baskoro Haryo Pamungkas
Syinthia Widya Wimala
Hanief Pitoyo Wicaksana
Tissa Florika
dan orang orang yang sudah mau mengisi survey.

Terimakasih.

Monday, June 16, 2014

The Sanctuary - Sayembara Penataan Kawasan Pulau Gili Iyang, Sumenep, 2014. IAI.

Tidak pernah terbayang akan memberi ide desain untuk sebuah pulau yang bahkan namanya saja baru pertama kali saya dengar. Tapi itulah yang terjadi.

Beberapa anggota keluarga dan teman sempat heran dengan saya, kenapa saya tidak bergerak cari kerja, atau cari sekolah, atau apapun setelah wisuda. Ya, saya bisa dibilang sedang dalam masa tenggang. Masa berlaku sebagai mahasiswa sudah habis, tapi masih ragu-ragu untuk masuk ke dunia kerja karena beberapa hal. Untungnya saya tidak sendiri. Ada sekitar belasan orang yang seperti saya, dan dengan senang hati mau mengisi waktunya untuk hal-hal produktif.

Saya ada di lingkungan kompetitif kelas berat, sehingga kalau tidak mau hilang, ya harus terus berbuat. Sebelum saya dicap pemalas, rasanya ada baiknya ini saya share. 

Jadi pulau ini ada di sebelah Timur Pulau Madura, dimana kita bisa kesana menggunakan kapal dengan waktu kurang lebih 1 jam. Pulau ini memiliki kadar oksigen (O2) tertinggi kedua di dunia, setelah Laut Mati. Kabarnya, penduduk disini berumur panjang, dan dari TOR yang kami baca, mereka ingin agar pulau ini nantinya mampu menjadi salah satu tujuan utama wisata kesehatan.

Namun, apa yang kami lihat dari pencarian-pencarian kami di internet, rasanya ambisi itu masih jauh panggang dari api. Dan melalui diskusi dan debat yang panjang, serta mempertimbangkan data yang ada (walau yang kami dapat hanya sedikit, dan rasanya kurang mendalam), kami mengajukan sebuah konsep yang kami namakan The Sanctuary.

A sanctuary, in its original meaning, is a sacred place, such as shrine. By the use of such places as a safe haven, by extension the term has come to be used for any place of safety. this secondary use can be categorized into human sanctuary , a safe place for humans,such as political sanctuary: and non-human  sanctuary, such as an animal or plant sanctuary.

Kami menggunakan definisi kata tersebut sebagai inspirasi, dimana secara garis besar, konsep ini ditujukan untuk melindungi apa yang menjadi kelebihan utama pulau ini, yaitu O2. Setelah melakukan brainstorming, kami memutuskan untuk membagi area pulau menjadi dua zonasi utama, area sanctuary (gampangnya, ini adalah area dimana akan dimaksimalkan penghijauan, dan direncanakan menjadi area yang bersih dari bangunan permanen), serta area sabuk sepanjang garis pantai (dimana pembangunan dan area komersil akan dimaksimalkan di sepanjang pantai). Di satu sisi, ini akan melindungi sumber O2 yang sudah ada (yang banyak terdapat di pusat pulau), serta mengarahkan pembangunan merata di sisi Barat dan Timur pulau nantinya, mengingat dari citra Google Earth, sebagian besar perkembangan pulau ada sisi Barat, yang dekat dengan Madura. Konsep besar ini nantinya kami jabarkan dalam bentuk aktivitas, zonasi, dan kami anak-kan menjadi konsep-konsep yang lebih kecil, yang selanjutnya kami terjemahkan menjadi desain oleh masing-masing anggota. Berhubung ada delapan anggota, banyak sekali gambar perspektif yang kami masukkan dalam satu panel. Ini salah satu kelebihan main keroyokan.

Untuk penjabaran lebih jelas, dan strategi-strategi desain yang kami ajukan, bisa langsung dilihat di panel. Apa yang saya tulis di atas sebenarnya juga hanya menyingkat apa yang ada di panel, terutama bagian pembukaan. Karya ini sebenarnya belum sempurna, dan mungkin masih jauh dari realisasi, serta ada beberapa tulisan yang lupa diganti, ada beberapa satuan yang hitungannya belum kami masukkan, dan kesalahan-kesalahan lainnya. Tapi lebih baik saya biarkan apa adanya, panel ini utuh sebagaimana kami kirimkan.

Nama pulau ini, adalah Pulau Gili Iyang.
Pengalaman dan diskusi yang menyenangkan, bersama orang-orang yang menyenangkan.

Kredit terbesar untuk teman-teman di bawah ini.
Yang bekerja hebat uhanya demi panel yang padat.
Yang masih tabah menunggu rekening bertambah.

Super Great Team:
Alexander Octa
Rizki Bhaskara
Gata Guruh Mahardika
Herdyanto Tirtoputro
Muhammad Fadlil
Reza Arlianda
Baskoro Haryo Pamungkas
Hanief Pitoyo Wicaksana








Share