Friday, January 23, 2015

Kampung Sawai, Maluku Tengah

Matahari terbenam di Sawai.
 
Jurnal Sawai, paska presentasi Sayembara Arsitektur Rumah Baileo.
 Agustus 2014.

Aku sebelumnya bilang, bahwa kita bisa menikmati lagu apapun saat berada dalam taksi manapun di Ambon dan Seram. Itu tidak diragukan. Namun di sisi lain, aku harus menggarisbawahi bahwa skill menyetir orang di sini tinggi sekali. Maksudnya, mereka bisa menyetir di tempat yang berbahaya sekali dengan kecepatan tinggi sekali.

Awalnya begini.

Kami berempat beruntung bertemu dengan seorang baik bernama Rico Wailerune (kalau saya tidak salah) saat presentasi sebuah sayembara arsitektur. Niat kami berkunjung ke Sawai banyak terbantu olehnya. Sebagai orang yang sudah lama tinggal di Masohi, ia tahu banyak tentang kota ini. Kami bertanya banyak tentang Sawai, rute jalan, jadwal angkutan, dan biaya penginapan. Ia menjawab dengan semangat, dan membantu kami menyewa sebuah mobil dari Masohi ke Saleman, desa terakhir sebelum kami dapat menyebrang ke Sawai dengan Perahu.

Masohi ada di selatan Seram, sementara Saleman ada di sisi sebaliknya. Untuk mencapai Saleman, kita harus melalui perjalanan darat yang panjang. Kami diceritakan bahwa jalannya akan sempit, mengular, naik turun membelit bukit, berkabut, dan akan ditempuh dalam waktu beberapa jam. Kami bernasib baik karena dibantu dicarikan mobil untuk pergi-pulang dari Masohi-Saleman. Di hari dan jam yang disepakati, kami naik mobil tersebut untuk segera berangkat ke Saleman. Sopirnya bernama Ical Samual, dan meski tidak banyak bicara, dia selalu berusaha tersenyum dan menyapa.

Mobilnya bersih sekali, dan musiknya masih tetap enak. Kami sedikit bertanya-tanya kepada bang Ical tentang Sawai, namun karena suara musik beradu dengan obrolan, pembicaraan itu otomatis terhenti juga. Masalahnya dimulai disini. Begitu masuk hutan, kebalikan dengan apa yang biasanya orang normal lakukan, pedal gas malah diinjak dalam-dalam olehnya. Aku duduk di kursi tengah baris kedua sehingga bisa melihat jarum speedometer ada di angka 80 dan 100 saat itu. Aku yakin pasti terpental keluar dari kaca depan jika mobil berhenti mendadak atau menabrak sesuatu. Namun rasanya bang Ical ini yakin benar dengan kemampuannya mengemudi. Tidak ada rem atau gas yang digebernya dengan ragu-ragu. Aku putuskan saja untuk menitipkan nasib ini padanya. Mobil meroket meliuk-liuk di badan bukit, sampai akhirnya kami bisa melihat laut dan berhenti. 

Inilah Saleman. Harum cengkeh semerbak di dalam desa Saleman, memberitahu kami bahwa daerah ini memang penghasil rempah. Mobil kami berhenti di bibir dermaga, dan kami langsung menyewa perahu. 

Desa Saleman, indah kan?

Perjalanan dengan boat hanya sekitar 15 menit, tapi pemandangannya sangatlah luar biasa, terlebih cuaca sedang bagus di siang hari. Berbeda sekali dengan cuaca di daerah Seram selatan. Di kejauhan, di pinggir pantai, terlihat beberapa bangunan di pinggir pantai dengan dermaga kecil. Ternyata itu yang namanya Ora Beach. Kekaguman kami dengan pemandangan Ora cepat tergantikan dengan munculnya tebing batu besar Hatupia. Tebing yang tinggi besar ini seolah memotong barisan hutan hijau di sepanjang pantai, sayangnya, ada beberapa coretan vandalis yang dibuat dengan cat di bagian tebing yang berdekatan dengan air.

Itu perbuatan orang Indonesia, aku yakin itu.

Belum habis kami menikmati tebing tersebut, kami sudah harus terkesan lagi dengan beberapa massa kotak-kotak yang ada di atas laut. Tidak salah lagi, itu Sawai.

Terlihat bahwa kampung ini cukup ramai. Ada satu-dua kapal yang berlalu lalang membawa penumpang dan beberapa barang. Anak kecil tampak santai bermain sampan. Dan kebetulan sekali ada satu massa bangunan yang sedang dikerjakan di dekat dermaga, jadi setidaknya kami bisa bertanya-tanya tentang arsitekturnya. Kapal segera merapat, dan seorang dengan umur sekitar 40-an datang menyambut kami. Sambil tersenyum dan mengulurkan tangan, dia menyapa.

"Halo, perkenalkan, saya Alex."

Kami sempat mencari informasi tentang Sawai, dan kebetulan ada artikel yang memasang foto bapak ini. Aku pribadi masih ingat, bapak ini adalah Muhammad Ali, pemilik penginapan Lisar Bahari yang fotonya terpasang di laman artikel tersebut. Langsung saja, kami menyalami bapak itu dan saling memperkenalkan diri.

"Ah? Bapak bukannya pak Ali?"

Beliau tertawa kecil.

"Wah. Hahaha. Tahu darimana? Oh? Internet? Hahaha. Saya punya dua nama. Mari"

Kami memanggul tas yang baru saja kami turunkan dan langsung mengikuti bapak ini. Langkahnya cepat juga.

"Ini kamarnya."

Aku pernah mendapati kamar yang begitu buruk dan berkutu di Labuan Bajo dengan harga yang murah. Aku tidak berharap banyak saat berkunjung ke Seram Utara, tempat yang lebih jauh dan sulit dicapai dibandingkan Labuan Bajo, tapi disini kami semua terkesan. 

Kami mendapati satu kamar dengan dua kasur (spring bed besar dan empuk), dimana di atas masing-masing kasur terdapat dua bantal yang besar. Antara dua kasur ada satu meja kecil dengan colokan listrik terpaku di dindingnya. Gantungan baju bersama ada di dinding seberang, sementara jika ingin menjemur pakaian basah, di luar ada jemuran sendiri untuk tiap kamar. Material dinding, atap, dan lantai terbuat dari material alami, sehingga secara visual sangat enak dilihat, apalagi mengingat kami lulus dari jurusan arsitektur. Kamar mandi? Tersedia di kamar ini juga, cukup buka pintu di sebelah gantungan pakaian tadi. Toiletnya toilet duduk, dan ada shower, meski airnya tidak terlalu deras.

Kamar sebagus ini di tempat sejauh ini, tentu ada satu hal yang jadi pertanyaan kami.

"Untuk kamarnya, seorang dua ratus lima puluh ribu. Saya kasih paket lengkap, tempat tidur ada, makan gratis tiga kali sehari, snack sore ada, kelapa muda gratis, alat snorkling saya kasih pinjam, dan ada sampan gratis buat dipakai. Dan saya kasih kamar kalian di dekat kamar bule perempuan ini, sebagai bonus. Siapa tahu berminat. Hahaha."

Bapak ini membaca pikiran kami. Selera humornya juga bagus. Suasana langsung cair. Dan rasanya bodoh sekali kalau kita masih minta menawar dengan fasilitas sebanyak itu. Kami setuju saja, dan sepakat dengan apa yang bapak ini tawarkan.

"Sekarang silahkan istirahat dulu saja, kalau mau berenang juga boleh. Sebentar lagi saya suruh orang bawakan teh. Dan setelah makan malam, biar saya buka paket laut atau hutan." Maksud paket laut atau hutan itu adalah paket tur dengan guide, yang rincinya akan kuceritakan nanti di bawah saja dengan detail.

Untuk perjalanannya, lihat foto-foto di bawah saja.

 Sesaat sebelum menambatkan kapal di dermaga.

Di atas adalah penginapan. Penginapan dihubungkan dengan selasar-selasar yang melayang di atas air. 
Di bawahnya adalah kolam renang kami, dan semua orang. 
Kolam kami bercampur dengan ikan dan segala macamnya, 
sekaligus jalan raya menuju kampung. 
Apik sekali.

Bangunan pertama, berdiri dari tahun 98, kata Pak Ali. 
Saat kami datang sudah tahun ke enam belas.
Kayu-kayu ini tampaknya kuat sekali.

Selasar antar penginapan.
Di ujung beranda kamar, setiap pagi kami tidak punya pilihan lain, selain minum teh sambil menikmati pisang goreng di pinggir selasar.


Di sisi bukit Hatupia

Desa Sawai dari atas, cukup padat untuk kampung nelayan.
Kalau anda sempat, berkelilinglah. Penduduknya ramah-ramah, dan ada penjaja es campur yang enak sekali.
Semangkuk hanya 5000 rupiah.

Detail perjalanan:
Taksi Avanza Masohi-Sawai Rp.500.000 sekali jalan
Kapal Penyebrangan Saleman Sawai Rp 250.000 pulang pergi
Penginapan, makan, dan fasilitas, Lisar Bahari Rp 250.00 semalam
Paket Tur laut, Lisar Bahari, Rp 750.000 per kapal, meliputi:
1. Wisata ke sungai Salawai, melihat proses pembuatan Sagu.
2. Makan siang di Pulau Jodoh
3. Snorkeling di tengah laut
4. Snorkleing lagi di dekat bukit Hatupia, dekat gua kelelawar
5. Kelapa muda, kopi, teh, snack gratis, dan semua dipandu seorang guide.

Paket gunung lebih mahal, namun kalau anda suka berburu foto, terutama satwa, ini direkomendasikan.
Perjalanan meliputi susur hutan, melihat penangkaran hewan, dan melihat satwa. Anda akan dierek naik ke atas rumah pohon yang tingginya puluhan meter dari tanah, dan bisa melihat aneka flora dan fauna melalui lensa anda yang panjang. Berhubung saya hanya bisa mengacung-acungkan Lumia 520 saya kesana-kemari, sementara tak satupun dari kami antusias melihat burung dan anggrek, kami memilih laut.

Wednesday, January 21, 2015

Jengkel, Pulau Sempu, Jawa Timur

Jurnal perjalanan Pulau Sempu, Jawa Timur.
Januari 2015.


Segara Anakan, Samudera Hindia, dan tenda-tenda.



Dengan kedok 'awalan yang positif di tahun yang baru', aku merencanakan perjalanan ke Pulau Sempu di Jawa Timur. Tidak banyak yang tertarik dengan rencana perjalananku. Aku menghubungi beberapa teman untuk bergabung bersama untuk pergi ke Sempu, tapi tanggapan yang kuterima kebanyakan negatif dengan beragam alasan yang berbeda-beda. Namun akhirnya terkumpul 3 orang lain: Bangkit, Fattah, dan Levy, yang nantinya akan bergabung di Malang.

Untuk paham betapa jengkelnya aku, mungkin aku harus mendeskripsikan bapak-bapak ini di awal cerita. 

Kuperkirakan umurnya sekitar 40 an, perawakannya agak tambun dan tidak begitu tinggi. Bentuk badannya, dari leher ke kaki, persis Pinguin, musuh sejati seorang Batman. Dia tidak memakai tuksedo dan topi tinggi. Bedanya, dia memakai kemerja seadanya berwarna biru dongker, dengan dalaman berwarna sama. Tentu kemeja itu tidak dikancingkan, perutnya menyembul begitu saja diantara lembar kemejanya. Mukanya bulat, berkumis, wajahnya licin karena minyak, dan puncak kepalanya ditutup oleh rambut belah tengah yang sudah acak-acakan. Aku tebak dia adalah orang Perhutani, yang harus kami mintai ijin untuk masuk ke Sempu. Mendapati dia dalam keadaan awut-awutan, merokok, dan menyengir - aku langsung muak.

Aku melihat wajahnya dari luar jendela pos Perhutani. Aku hendak istirahat sejenak setelah perjalanan 3 jam lebih dari Malang menuju tempat ini, desa Sendang Biru. Belum sempat duduk, Fattah, yang lebih dulu menghadapi dia untuk mengurus administrasi bilang ada sedikit masalah. Aku segera malas-malasan masuk dan berhadapan dengan bapak itu.

"Jadi bagaimana pak?"

"Jadi maaf mas, kuota untuk hari ini sudah penuh, maksimal hanya 15 tenda di Segara Anakan."

Dia menyesap rokoknya dalam-dalam sebelum melanjutkan. Aku makin muak.

"Mohon maaf, hari ini sudah tidak bisa menyebrang, silakan kembali di lain waktu."

Akumulasi lelah perjalanan kereta malam dan naik motor sepanjang pagi diberi gong yang nikmat: kami dikabari kalau kami tidak bisa menyebrang. Dan aku makin kesal karena orang ini yang menyampaikan. Aku makin muak karena bau badannya amat sengak! Inilah akibatnya kalau kau merokok dan bermalas-malasan sepanjang hari di ruangan panas. Aku kesal setengah mati, namun aku tahan semua dan mencoba berdialog dengan kepala dingin. Aku ceritakan bahwa kami datang dari Jogja, waktu kami terbatas, dan kami belum pernah ke Sempu sama sekali. Tidak lupa kami bilang akan sopan dan tidak menyampah sepanjang perjalanan. Segala macam jilatan itulah. Dan akhirnya dia mulai buka mulut.

" Yaaa.. Karena masnya sudah datang dari jauh, dan sengaja hanya untuk ke tempat ini, kami pertimbangkan lagi. Cuma saat inni guidenya belum ada, dan lksdfsjfajhd sajdhfskajfhakjdfhakajfdhakjh dfjhwfl.."

Aku tidak begitu menyimak ucapannya, hanya saja ujung-ujungnya aku yakin adalah uang. Terang saja, di akhir kalimat, kami diminta menyediakan uang sebesar Rp 250.000 untuk membayar pemandu, tiap sepuluh orang, Rp 130.000 untuk sewa kapal pulang pergi, dan masing-masing diminta menyewa sepatu, sepuluh ribu sepasang. Itupun dengan jam berangkat yang belum pasti. Tapi apa ada pilihan lain? Aku mengiyakan, dan dia menulis namaku sekenanya di selembar kertas HVS. Dia mengesahkan keberadaan kami untuk masuk ke pulau dengan menulis namaku "ANIF" dengan hururf "F" yang terbalik, bersama dengan coretan "1 tenda, 4 org". Belum pernah aku sejengkel ini terhadap satu orang. Tapi masa bodohlah. Sesukamu saja.

Ada beberapa rombongan bernasib sama, dan kami harus menunggu lama di ruangan yang sama dengan bapak itu. Kami bersama terpaksa mendengarkan dia meracau tentang lingkungan cagar alam yang rusak, tentang flora dan fauna, tentang tingkat kesulitan treknya saat hujan, dan sebagainya. Dia juga bercerita tentang bahayanya trekking tanpa pemandu, karena adanya harimau dan macan kumbang di Pulau Sempu, apalagi jika malam tiba.  Pembual, pikirku. "Setidaknya aku tidak akan bertemu dengan orang yang lebih menyebalkan dari kamu!", pekikku dalam hati. Aku putuskan istirahat sampai kapal dan pemandu kami tiba.

Perjalanan kami semua akhirnya dimulai jam 5 lebih. Setelah menyeberang dengan kapal sekitar 10 menit, kami mendarat di Teluk Semut, dan segera berjalan sebelum hari bertambah gelap, bergegas ke Segara Anakan.

Tapi ternyata apa yang kudapati di akhir perjalanan?

Orang-orang yang berangkat bersama kami, ternyata bukan tipe pecinta alam yang biasa kutemui di gunung. Saat memanjat Merbabu, Prau, serta trekking menuju Kawah Ijen, orang-orang berjalan rapi seperti semut. Berbaris kecil-kecil dalam alur tertentu, disiplin, dan selalu menyempatkan saling sapa. Disini? Tidak ada semua itu. Beberapa orang berteriak-teriak dari barisan belakang, terkadang ada ucapan sumpah serapah yang menyelip. Kita bisa mendapati beberapa botol plastik bekas yang masih baru, pertanda itu baru saja ditinggalkan oleh orang yang berjalan di depan kami. Saling sapa? Tidak ada semua itu, mereka cuma bergaul dengan kenalannya saja. Peralatan mereka pun tidak lebih meyakinkan. Ada yang masuk hutan bertelanjang kaki, ada yang membawa bekalnya dengan menenteng sebungkus plastik Indomaret. Cuma setengah dari kami yang membawa senter. 

Di Segara Anakan, kondisinya tidak lebih baik. Ada orang menyalakan musik semalam suntuk. Saat pagi tiba di pinggir pantai, kudapati ribuan puntung rokok dan sobekan bungkus makanan berserakan. Air di pinggir pantai agak berbusa, sementara di beberapa titik ada bekas hangus dari api unggun, lengkap dengan sampah-sampahnya. Ada sudut-sudut yang berbau pesing dan amis. Aku kecewa sekali, karena terlepas dari itu, alamnya sangat indah. Aku sedikit demi sedikit merasa bersalah, dan mulai mengumpulkan sampah sebisanya dari pinggir pantai untuk dibawa pulang. Rasanya kalau kita membawa sampah pulang lebih banyak daripada sampah yang kita bawa masuk, alam akan lekas bersih. Tapi ada satu peristiwa yang sekali lagi mengecewakanku. Pelakunya seorang wanita, muda, rasanya kami sepantaran. Saat itu dia bilang begini.

"Mas, trash bag nya masih ada tempat ndak? Kita nitip ya?". Ucapan itu hampir serentak dengan gerakan dia memasukkan plastik sampahnya ke dalam trash bag ku. Benar, buat apa susah-susah membawa sampah kalau ada yang mau melakukan itu buat kita? Aku cuma diam, dan agak heran. Apa memang ada orang sebodoh ini? Kalau memang ada, Ya Tuhan, jangan biarkan aku bertemu dengan orang yang lebih bodoh dari ini!

Aku membuang pandangan ke arah air, dan melihat ada dua orang berenang dengan sambil mengibar-ngibarkan terpal ke tengah laut. Langit sedang gerimis.Coba tebak apa yang mereka lakukan? 

Mereka membawa terpal itu untuk memayungi kepalanya supaya tidak basah dari air hujan saat mereka berenang.

Rasanya aku berhutang apologi kepada bapak Perhutani.
Ternyata banyak pak, yang lebih menjengkelkan daripada sampeyan.

*Tentu tidak semua orang berlaku demikian, ada juga yang ramah dan baik hati. 
Di perjalanan pulang, ada satu rombongan yang menyewa porter untuk membawa sampah. 
Guidenya juga sangat baik dan bersahabat.

Monday, December 8, 2014

ABCDE - Sayembara Masterplan Sinarmas Land Young Architect, 2014. Sinar Mas Land.

Ini adalah sebuah dagelan yang digarap dengan serius oleh kami, sehari sebelum waktu pengumpulan. Kami sudah membicarakannya satu bulan sebelum batas akhir penyerahan. Topik pembicaraan di saat awal pengerjaan sayembara sangat ambisius dan bersemangat, misal:

"Kali ini harus menang."
"Yang sekarang jangan sampai kayak sayembara sebelumnya, waktu pengerjaan minimal satu minggu."
"Risetnya mesti mendalam, konseptual, tapi harus cocok juga dengan pasar."

Namun ternyata kemunafikan menyerang.

"Halah, sayembara sekali ini nggak apa lah kalah.."
"Yang penting ngumpul."
"Tulis apa saja boleh, aku bocahmu."

Pada dasarnya, kami berbakat malas.
Sekian.

Tim:
Muhammad Fadlil
Gata Guruh Mahardika
Reza Arlianda
Hanief Pitoyo Wicaksana
























Monday, December 1, 2014

Belum Punya Nama - Sayembara Desain Museum Batik Indonesia TMII, 2014, IAI.

Ini mungkin salah satu karya yang aku tidak berhak mendapat kredit apapun terhadapnya. Aku (sebenarnya bersama Gery, Gata, dan Reza-maaf nama kalian kucatut, aku nggak ingin disalahkan sendiri) hanya sempat wasapan urun angan dari Ambon sambil menonton tv kabel di hotel, sementara ada orang-orang yang rela menyisihkan waktu tidur dan sibuknya menyelesaikan semua panel ini di Yogyakarta (maksud saya Ribas, Fadil, Baskoro). Panelnya keren banget. Substansinya bisa dibilang apa banget.

Permintaan maaf sebesar-besarnya buat tim tercinta.
Tapi sinyal internet dan telepon di Maluku memang sangat buruk kok. 

Eh, kalau dilihat-lihat, ternyata karya ini bahkan belum punya nama lho, bro.

Tim Pengembangan + Eksekusi Desain:
Rizki Bhaskara
Muhammad Fadlil Anugrah
Baskoro Haryo Pamungkas
---------------------------------------
Tim Omong Doang:
Reza Arlianda
Gata Guruh Mahardika
Gery Dwi Samudra
Hanief Pitoyo Wicaksana







Sepanjang Masohi

Di Maluku, ke taksi manapun anda masuk, aku jamin musik-kusik lama mengalun merdu. 

Sepanjang perjalanan menyusuri Ambon dan Seram, aku selalu menikmati musik yang dimainkan pak sopir di mobil. Musik lawas seperti Queen, ABBA, Bee Gees sampai artis legendaris lokal seperti Broery bernyanyi menggantikan radio atau musik pop standar, yang biasa dimainkan di taksi kota-kota besar.

Jangan membayangkan taksi disini seperti taksi pada umumnya. Taksi disini bukanlah Limo, atau Vios, atau sedan apapun yang biasa anda naiki. Taksi disini umumnya adalah Avanza, pak sopirnya tidak menggunakan seragam atau tanda pengenal, pun tidak memiliki sistem argo. Tapi kujamin, orang disini baik hati meski bersuara keras dan tegas.

Ini adalah cerita saat aku dan teman-teman mengikuti acara presentasi sebuah sayembara di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Kami berempat dijemput di dekat bandara setelah menginap sehari di Hotel Transit Maluku, 2 km dari Bandara Pattimura. Kami langsung masuk ke taksi, untuk langsung ke pelabuhan Tulehu, mengejar kapal cepat langsung ke Pulau Seram.

Di pelabuhan Tulehu, semua peserta sayembara dan dewan juri berkumpul untuk sarapan sambil menunggu kapal cepat. Kapal cepat yang datang adalah kapal putih bersih yang memiliki atap yang menyatu dengan badan kapal, sehingga penumpang terlindung sepenuhnya dari hujan, berbeda dengan kapal cepat biasa yang beratap terpal. Kabinnya muat untuk sekitar 12-15 orang, dengan posisi duduk berhadap-hadapan seperti di angkot. Di ujung depan, ada kursi khusus untuk kapten kapal, persis seperti kursi pilot pesawat. Dua mesin Yamaha terpaku di belakangnya, dan disamping pintu masuk belakang terdapat wastafel sederhana. Aku pikir, kendaraan ini luar biasa. Belakangan aku tahu, bahwa kapal itu adalah pesanan mantan bupati Masohi dan pemda setempat, yang khusus datang menjemput kami.

Aku tidak tahu perasaan yang lain, tapi aku sendiri kaget, karena aku jarang dianggap penting.

Kapal ini mampu membawa penumpang sampai dari Pulau Ambon sampai Pulau Seram dengan cepat, dengan resiko terhuyung ombak sepanjang perjalanan, sehingga rasanya tidak disarankan untuk mereka yang sering mabuk, terlebih jika cuaca sedang buruk. Disamping itu harganya jelas lebih mahal. Kami melewati dua pulau dengan cepat, untuk langsung mendarat di Seram dengan selamat, meski cuaca sedang gerimis.

Perjalanan dilanjutkan dengan mobil travel yang cukup besar, sebuah minibus yang muat sekitar 12 orang, lagi lagi terimakasih kepada pemda setempat. Aku duduk di bangku paling belakang, bersama Gery, Rejak, dan Gata. Perjalanan ke Masohi cukup panjang, mungkin sekitar 3 jam jalan berliku dan mengular menyisir sisi selatan Seram. Aku sempat mengecek lewat HERE Maps, namun ternyata bentuk jalannya tidak muncul di peta. 

Dengan bentuk jalan yang sama sepanjang perjalanan, dengan pelingkup pohon dan semak yang tinggi sepanjang perjalanan, tidak adanya sinya dan buku bacaan, 3 jam ini berpotensi membosankan. Untungnya di depan kami duduk seorang Yori Antar dan Prof. Watloly. Bagaimanapun, pembicaraan dan cerita-cerita mereka terlalu menarik untuk diabaikan dan ditinggal tidur. Tiga jam ini terasa seperti kuliah umum dengan dosen tamu yang hebat, sampai akhirnya nanti tiba di Masohi.

Kota ini tidak begitu mengejutkan, karena rasanya suasananya lumayan persis dengan beberapa bagian kota Gianyar di Bali, tempatku tinggal selama belasan tahun. Ada terminal persis di sebelah pasar, angkot-angkot, yang menyetel house music keras-keras, berseliweran bersama taksi-taksi Avanza dan motor-motor matic. Di malam hari, sepanjang trotoar ditutupi oleh penjaja buah kelengkeng dan durian, sambil sesekali alur itu terputus karena adanya warung lesehan. Kondisi trotoar disini tidak baik, ada lubang-lubang, dan lengkungan yang membuat air hujan tertampung menjadi becek. Persis sekali dengan daerah Batubulan, Gianyar.

Pembedanya adalah di Masohi tidak ada bau dupa dibakar yang sangat khas Bali. Dan tidak ada genteng tanah liat. Sepanjang perjalanan, sebagian besar rumah ditutup oleh atap seng, dan sesekali rumbia. Ada beberapa yang memasang genteng, namun itu hanya terbatas untuk beberapa bangunan saja, dan itupun bukan genteng tanah liat pada umumnya. Jika dibandingkan dengan Gianyar, kondisi kota ini juga lebih sepi. Satu ruas jalan yang menuju ke arah rumah dinas Bupati sangat lebar dan lengang, di kanan-kiri ada rumah-rumah dengan jarak yang renggang satu sama lain.

Aku sedang sibuk menyerap energi dan atmosfer kota Masohi, tanpa sadar kami sudah tiba di Rumah Dinas Bupati Masohi, selain untuk melihat site sayembara secara langsung, juga untuk menerima sambutan singkat. Tempatnya luas dan masih hijau. Di belakangnya ada bukit yang masih liar. Baileo dan guesthouse yang sudah ada berdiri di depan dan samping site, sementara ruang parkir dan rumah bupati terletak di belakang. Yang menarik, banyak sekali rusa dipelihara dan dibebaskan di sekitar halaman rumah dinas ini. 

Aku teringat satu rusa yang kusate saat KKN di Sumbawa Barat.

Pertemuan dan sambutan tidak berlangsung lama, dan kami langsung bertolak untuk makan. Menu yang kuharapkan sebenarnya adalah daging rusa, tapi ternyata kendaraan menuju ke warung sederhana yang dilewati tadi di pinggir jalan. Bambu Kuning adalah warung ikan bakar yang tampaknya terkenal di Masohi. Ada beberapa tamu selain rombongan kami yang berbicara dengan logat Jakarta, lengkap dengan mengalungi DSLR dan menggenggam iPhone. Warung ini sederhana saja, dinding kayu dan bambu, meja kayu, dan udara ruang yang sedikit berasap karena ikan dibakar persis di samping warung. 

Untuk soal rasa, luar biasa. Bumbu ikan bakarnya sedap kemerah-merahan, namun sama sekali beda dengan apa yang pernah kucoba di Bali. Nasinya tampaknya nasi gurih, tapi kita juga bisa coba makan ikan dengan papeda, setelah mengalasi piring dengan kuah dari sup ikan. Semua sepakat ini salah satu menu ikan bakar terenak yang pernah dimakan. Lebih beruntung lagi: semua gratis berkat sponsor Ikatan Arsitek Indonesia dan pemda setempat. 

Jika anda ingin ke Sawai atau Ora, anda pasti akan lewat dan transit di Masohi dan aku sarankan jangan lewatkan tempat yang satu ini. Perjalanan akan dilanjutkan untuk mengunjungi desa adat Rohua dan Bonara, milik suku Naulu, kalau saya tidak salah. 

Tapi akan kuceritakan di tulisan lainnya.
Kalau ada yang ingin tahu biaya perjalanan dan akomodasi Surabaya-Ambon-Masohi, aku beritahu di bawah.

Surabaya-Ambon
Pesawat Lion Air PP = Sekitar Rp 2.000.000/orang
Angkot Bandara Pattimura ke Hotel Transit Maluku =  Rp. 2.000/orang/malam
Hotel Transit Maluku (VIP Room: 2 bed, KM dalam-tanpa pintu, AC, TV) = Rp. 80.000/orang
Angkot Hotel Transit Maluku - Pelabuhan Tulehu = Rp 5.000/orang
Kapal Cepat Cantika Express, Tulehu-Amahai = Rp 100.000/orang
Taksi Avanza = biaya tergantung tujuan, karena tidak pakai Argo, sebaiknya tawar menawar saja.

Masohi
ATM terakhir sebelum ke Saleman cuma ada di kota ini, BNI dan BRI,
Hotel Lulu di Masohi (Standard Room for 2 ppl: 2 bed, KM dalam+air panas, AC, TV) = Rp 150.000-Rp 200.000/orang/malam
Charter Taksi Avanza ke Saleman = rata-rata Rp 500.000/mobil 1x jalan
Ikan Bakar Warung Bambu Kuning = ditraktir, jadi tidak tahu.

Share